Rabu, 12 Maret 2014

MPKP (Model Praktek Keperawatan Profesional) dan SP2KP (Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional)



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan profesionalisme keperawatan di Indonesia dimulai sejak diterima dan diakuinya keperawatan sebagai profesi pada Lokakarya Nasional Keperawatan (1983). Sejak saat itu berbagai upaya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kesehatan dan organisasi profesi, diantaranya adalah dengan membuka pendidikan pada tingkat sarjana, mengembangkan Kurikulum Diploma III keperawatan, mengadakan pelatihan bagi tenaga keperawatan, serta mengembangkan standar praktik keperawatan. Upaya penting lainnya adalah dibentuknya Direktorat Keperawatan di Departemen Kesehatan di Indonesia. Semua upaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme keperawatan agar mutu asuhan keperawatan dapat ditingkatkan. (Sitorus, 2006).
Walaupun sudah banyak hal positif yang telah dicapai di bidang pendidikan keperawatan, tetapi gambaran pengelolaan layanan keperawatan belum memuaskan. Layanan keperawatan masih sering mendapat keluhan masyarakat, terutama tentang sikap dan kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien atau keluarga. (Sitorus, 2006).
Layanan keperawatan yang ada di Rumah Sakit masih bersifat okupasi. Artinya, tindakan keperawatan yang dilakukan hanya pada pelaksanaan prosedur, pelaksanaan tugas berdasarkan instruksi dokter. Pelaksanaan tugas tidak didasarkan pada tanggung jawab moral serta tidak adanya analisis dan sintesis yang mandiri tentang asuhan keperawatan. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan restrakturing, reengineering, dan redesigning system pemberian asuhan keperawatan melalui pengembangan Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) yang diperbaharui dengan SP2KP. (Sitorus, 2006).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari MPKP?
2. Apa tujuan dari MPKP?
3. Apa saja macam metode penugasan MPKP dalam keperawatan?
4. Menurut Hoffart & Woods (1996), sebutkan komponen MPKP?
5. Apa karakteristik MPKP
6. Bagaimana langkah-langkah dalam MPKP?
7. Bagaimana tingkatan MPKP?
8. Jelaskan pilar-pilar MPKP?
9. Apa pengertian SP2KP?
10. Apa kelebihan SP2KP?
11. Mana yang lebih baik, MPKP atau SP2KP?
12. Apa perbedaan dari SP2KP dan MPKP?
13. Apa hambatan dalam penerapan SP2KP dan MPKP?
14. Mengapa MPKP (model keperawatan tim) diubah menjadi SP2KP (model keperawatan profesional)?
15. Bagaimana kinerja perawat setelah penerapan SP2KP?
16. Bagaimana perkembangan SP2KP di rumah sakt di sekitar Semarang?
17. Adakah perbedaan dampak bagi pasien setelah penerapan SP2KP?
18. Apa peran PP dalam SP2KP?
19. Jelaskan bagaimana renpra?
20. Apa fungsi perawat melakukan konferen?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari MPKP
2. Untuk mengetahui tujuan dari MPKP
3. Untuk mengetahui macam-macam metode penugasan MPKP dalam keperawatan
4. Untuk mengetahui komponen dari MPKP
5. Untuk mengetahui karakteristik MPKP
6. Untuk mengetahui langkah-langkah dalam MPKP
7. Untuk mengetahui tingkatan MPKP
8. Untuk mengetahui pilar-pilar MPKP
9. Untuk mengetahui pengertian SP2KP
10. Untuk mengetahui kelebihan SP2KP
11. Untuk mengetahui alasan lebih baik MPKP atau SP2KP
12. Untuk mengetahui perbedaan MPKP dan SP2KP
13. Untuk mengetahui hambatan dalam penerapan SP2KP dan MPKP
14. Untuk mengetahui alasan MPKP (model keperawatan tim) diubah menjadi SP2KP (model keperawatan profesional)
15. Untuk mengetahui kinerja perawat setelah penerapan SP2KP
16. Untuk mengetahui perkembangan SP2KP di rumah sakt di sekitar Semarang
17. Untuk mengetahui perbedaan dampak bagi pasien setelah penerapan SP2KP
18. Untuk mengetahui peran PP dalam SP2KP
19. Untuk mengetahui mengenai renpra
20. Untuk mengetahui fungsi perawat melakukan konferen

BAB II
PEMBAHASAN
MPKP (Model Praktik Keperawatan Profesional)
A. Pengertian MPKP
Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) adalah suatu sistem (struktur, proses dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan, yang dapat menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996).

B. Tujuan dari MPKP
a. Menjaga konsistensi asuhan keperawatan
b. Mengurangi konflik, tumpang tindih, dan kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh tim keperawatan
c. Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan
d. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijakan dan keputusan
e. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap tim keperawatan.
C. Macam-macam Metode Penugasan MPKP dalam Keperawatan
1. Metode Kasus
Metode kasus merupakan metode pemberian asuhan yang pertama kali digunakan. Sampai perang dunia II metode tersebut merupakan metode pemberian asuhan keperawatan yang paling banyak digunakan. Pada metode ini satu perawat akan memberikan asuhan keperawatan kepada seorang klien secara total dalam satu periode dinas. Jumlah klien yang dirawat oleh satu perawat bergantung pada kemampuan perawat tersebut dan kompleksnya kebutuhan klien. (Sitorus, 2006).
Setelah perang dunia II, jumlah pendidikan keperawatan dari berbagai jenis program meningkat dan banyak lulusan bekerja di rumah sakit. Agar pemanfaatan tenaga yang bervariasi tersebut dapat maksimal dan juga tuntutan peran yang diharapkan dari perawat sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran, kemudian dikembangkan metode fungsional. (Sitorus, 2006).

2. Metode Fungsional
Pada metode fungsional, pemberian asuhan keperawatan ditekankan pada penyelesaian tugas atau prosedur. Setiap perawat diberi satu atau beberapa tugas untuk dilaksanakan kepada semua klien di satu ruangan. (Sitorus, 2006).
Pada metode ini, kepala ruang menentukan tugas setiap perawat dalam satu ruangan. Perawat akan melaporkan tugas yang dikerjakannya kepada kepala ruangan dan kepala ruangan tersebut bertanggung jawab dalam pembuatan laporan klien. Metode fungsional mungkin efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas apabila jumlah perawat sedikit, tetapi klien tidak mendapatkan kepuasan asuhan yang diterimanya. (Sitorus, 2006).
Metode ini kurang efektif karena (Sitorus, 2006) :
a. Proritas utama yang dikerjakan adalah kebutuhan fisik dan kurang menekankan pada pemenuhan kebutuhan holistik
b. Mutu asuhan keperawatan sering terabaikan karena pemberian asuhan keperawatan terfragmentasi
c. Komunikasi antar perawat sangat terbatas sehingga tidak ada satu perawat yang mengetahui tentang satu klien secara komprehensif, kecuali mungkin kepala ruangan.
d. Keterbatasan itu sering menyebabkan klien merasa kurang puas terhadap pelayanan atau asuhan yang diberikan karena seringkali klien tidak mendapat jawaban yang tepat tentang hal-hal yang ditanyakan.
e. Klien kurang merasakan adanya hubungan saling percaya dengan perawat.
Selama beberapa tahun menggunakan metode fungsional beberapa perawat pemimpin (nurse leader) mulai mempertanyakan keefektifan metode tersebut dalam memberikan asuhan keperawatan profesional kemudian pada tahun 1950 metode tim digunakan untuk menjawab hal tersebut. (Sitorus, 2006).
3. Metode tim
Metode tim merupakan metode pemberian asuhan keperawatan, yaitu seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada sekelompok klien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif (Douglas, 1992). Metode tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga menimbulkan rasa tanggung jawab yang tinggi. (Sitorus, 2006).
Pelaksanaan metode tim berlandaskan konsep berikut (Sitorus, 2006) :
a. Ketua tim, sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan. Ketua tim harus dapat membuat keputusan tentang prioritas perencanaan, supervisi, dan evaluasi asuhan keperawatan. Tanggung jawab ketua tim adalah :
1) Mengkaji setiap klien dan menetapkan renpra
2) Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis
3) Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok dan memberikan bimbingan melalui konferensi
4) Mengevaluasi pemberian askep dan hasil yang dicapai serta mendokumentasikannya
b. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas renpra terjamin. Komunikasi yang terbuka dapat dilakukan melalui berbagai cara, terutama melalui renpra tertulis yang merupakan pedoman pelaksanaan asuhan, supervisi, dan evaluasi.
c. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
d. Peran kepala ruangan penting dalam metode tim. Metode tim akan berhasil baik apabila didukung oleh kepala ruang untuk itu kepala ruang diharapkan telah :
1) Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf
2) Membantu staf menetapkan sasaran dari unit/ruangan
3) Memberi kesempatan pada ketua tim untuk pengembangan kepemimpinan
4) Mengorientasikan tenaga yang baru tentang fungsi metode tim keperawatan
5) Menjadi narasumber bagi ketua tim
6) Mendorong staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset keperawatan
7) Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka
Hasil penelitian Lambertson dalam Douglas (1992) menunjukkan bahwa metode tim jika dilakukan dengan benar adalah metode pemberian asuhan yang tepat untuk meningkatkan kemanfaatan tenaga keperawatan yang bervariasi kemampuannya. (Sitorus, 2006).
Kekurangan metode ini, kesinambungan asuhan keperawatan belum optimal sehingga pakar menge mbangkan metode keperawatan primer. (Sitorus, 2006).
4. Metode perawatan primer
Menurrut Gillies (1989) “Keperawatan primer merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan, dimana terdapat hubungan yang dekat dan berkesinambungan antara klien dan seorang perawat tertentu yang bertanggungjawab dalam perencanaan, pemberian, dan koordinasi asuha keperawatan klien, selama klien dirawat.” (Sitorus, 2006).
Pada metode keperawatan primer perawat yang bertanggung jawab terhadap pemberian asuhan keperawatan disebut perawat primer (primary nurse) disingkat dengan PP. (Sitorus, 2006).
Metode keperawatan primer dikenal dengan ciri yaitu akuntabilitas, otonomi, otoritas, advokasi, ketegasan, dan 5K yaitu kontinuitas, komunikasi, kolaborasi, koordinasi, dan komitmen. (Sitorus, 2006).
Setiap PP biasanya merawat 4 sampai 6 klien dan bertanggungjawab selama 24 jam selama klien tersebut dirawat dirumah sakit atau di suatu unit. Perawat akan melakukan wawancara mengkaji secara komprehensif, dan merencanakan asuhan keperawatan. Perawat yang peling mengetahui keadaaan klien. Jika PP tidak sedang bertugas, kelanjutan asuhan akan di delegasikan kepada perawat lain (associated nurse). PP bertanggungjawab terhadap asuhan keperawatan klien dan menginformasikan keadaan klien kepada kepala ruangan, dokter, dan staff keperawatan. (Sitorus, 2006).
Seorang PP bukan hanya mempunyai kewenangan untuk memberikan asuhan keperawatan, tetapi juga mempunyai kewengangan untuk melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontrak dengan lembaga sosial di masyarakat, membuat jadwal perjanjian klinik, mengadakan kunjungan rumah dan lain lain. Dengan diberikannya kewenangan, dituntut akuntabilitas perawat yang tinggi terhadap hasil pelayanan yang diberikan. Metode keperawatan primer memberikan beberapa keuntungan terhadap klien, perawat, dokter, dan rumah sakit (Gillies, 1989). (Sitorus, 2006).
Keuntungan yang dirasakan klien ialah mereka merasa lebih dihargai sebagai manusia karena terpenuhi kebutuhannya secara individu, asuhan keperawatan yang bermutu tinggi dan tercapainya layanan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan,
proteksi, informasi, dan advokasi. Metode itu dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan karena (Sitorus, 2006) :
a. Hanya ada 1 perawat yang bertanggung jawab dalam perencanaan dan koordinasi asuhan keperawatan
b. Jangkauan observasi setiap perawat hanya 4-6 klien
c. PP bertanggung jawab selama 24 jam
d. Rencana pulang klien dapat diberikan lebih awal
e. Rencana asuhan keperawatan dan rencana medik dapat berjalan paralel.
Keuntungan yang dirasakan oleh PP adalah memungkinkan bagi PP untuk pengembangan diri melalui implementasi ilmu pengetahuan. Hal ini dimungkinkan karena adanya otonomi dalam membuat keputusan tentang asuhan keperawatan klien. Staf medis juga merasakan kepuasannya dengan metode ini karena senantiasa mendapat informasi tentang kondisi klien yang mutakhir dan komprehensif. (Sitorus, 2006).
Informasi dapat diperoleh dari satu perawat yang benar-benar mengetahui keadaan klien. Keuntungan yang diperoleh oleh rumah sakit adalah rumah sakit tidak harus memperkerjakan terlalu banyak tenaga keperawatan, tetapi harus merupakan perawat yang bermutu tinggi. (Sitorus, 2006).
Huber (1996) menjelaskan bahwa pada keperawatan primer dengan asuhan berfoukus pada kebutuhan klien, terdapat otonomi perawat dan kesinambungan asuhan yang tinggi. Hasil penelitian Gardner (1991) dan Lee (1993) dalam Huber (1996) mengatakan bahwa mutu asuhan keperawatan lebih tinggi dengan keperawatan primer daripada dengan metode tim. Dalam menetapkan seseorang menjadi PP perlu berhati-hati karena memerlukan beberapa kriteria, yaitu perawat yang menunjukkan kemampuan asertif, perawat yang mandiri, kemampuan menmgambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klini, akuntabel, bertanggung jawab serta mampu berkolaborasi dengan baik dengan berbagai disiplin. Di negara maju pada umumnya perawat yang ditunjuk sebagai PP adalah seorang spesialis perawat klinis (clinical nurse specialist) dengan kualifikasi master keperawatan. Menurut Ellis dan Hartley (1995), Kozier et al (1997) seorang PP bertanggung jawab untuk membuat keputusan yang terkait dengan asuhan keperawatan klien oleh karena itu kualifikasi kemampuan PP minimal adalah sarjana keperawatan/Ners. (Sitorus, 2006).
5. Differentiated practice
National League for Nursing (NLN) dalam kozier et al (1995) menjelaskan baha differentiated practice adalah suatu pendekatan yang bertujuan menjamin mutu asuhan melalui pemanfaatan sumber-sumber keperawatan yang tepat. Terdapat dua model yaitu model kompetensi dan model pendidikan. Pada model kompetensi, perawat terdaftar (registered nurse) diberi tugas berdasarkan tanggung jawab dan struktur peran yang sesuai dengan kemampuannya. Pada model pendidikan, penetapan tugas keperawatan didasarkan pada tingkat pendidikan. Bedasarkan pendidikan, perawat akan ditetapkan apa yang menjadi tnggung jawab setiap perawat dan bagaimana hubungan antar tenaga tersebut diatur (Sitorus, 2006).
6. Manajemen kasus
Manajemen kasus merupakan system pemberian asuhan kesehatan secara multi disiplin yang bertujuan meningkatkan pemanfaatan fungsi berbagai anggota tim kesehatan dan sumber-sumber yang ada sehingga dapat dicapai hasil akhir asuhan kesehatan yang optimal. ANA dalam Marquis dan Hutson (2000) mengatakan bahwa manajemen kasus merupakan proses pemberian asuhan kesehatan yang bertujuan mengurangi fragmentasi, meningkatkan kualitas hidup, dan efisiensi pembiayaan. Focus pertama manajemen kasus adalah integrasi, koordinasi dan advokasi klien, keluarga serta masyarakat yang memerlukan pelayanan yang ektensif. Metode manajemen kasus meliputi beberapa elemen utama yaitu, pendekatan berfokus pada klien, koordinasi asuhan dan pelayanan antar institusi, berorientasi pada hasil, efisiensi sumber dan kolaborasi (Sitorus, 2006).
D. Komponen dari MPKP
Berdasarkan MPKP ysng sudah dikembangkan diberbagai rumah sakit Hoffart dan Woods menyimpulkan bahwa MPKP terdiri dari lima komponen, yakni:
a. Nilai-nilai profesional
Nilai-nilai profesional menjadi komponen utama pada suatu praktik keperawatan profesional. Nilai-nilai profesional ini merupakan inti dari MPKP. Nilai-nilai seperti penghargaan atas otonomi klien, menghargai klien, dan melakukan yang terbaik untuk klien harus tetap ditingkatkan dalam suatu proses keperawatan.
b. Pendekatan manajemen
Dalam melakukan asuhan keperawatan adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, yang bilamana ingin memenuhi kebutuhan dasar tersebut seorang
perawat harus melakukan pendekatan penyelesaian masalah, sehingga dapat diidentifikasi masalah klien, dan nantinya dapat diterapkan terapi keperawatan yang tepat untuk masalah klien.
c. Metode pemberian asuhan keperawatan
Dalam perkembangan keperawatan menuju layanan yang profesional, digunakan beberapa metode pemberian asuhan keperawatan, misalnya metode kasus, fungsional, tim, dan keperawatan primer, serta manajemen kasus. Dalam praktik keperawatan profesional, metode yang paling memungkinkan pemberian asuhan keperawatan profesional adalah metode yang menggunakan the breath of keperawatan primer.
d. Hubungan profesional
Pemberian asuhan kesehatan kepada klien diberikan oleh beberapa anggota tim kesehatan. Namun, fokus pemberian asuhan kesehatan adalah klien. Karena banyaknya anggota tim kesehatan yang terlibat, maka dari itu perlu kesepakatan tentang cara melakukan hubungan kolaborasi tersebut.
e. Sistem kompensasi dan penghargaan
Pada suatu layanan profesional, seorang profesional mempunyai hak atas kompensasi dan penghargaan. Pada suatu profesi, kompensasi yang didapat merupakan imbalan dan kewajiban profesi yang terlebih dahulu dipenuhi. Kompensasi dan penghargaan yang diberikan pada MPKP dapat disepakati di setiap institusi dengan mengacu pada kesepakatan bahwa layanan keperawatan adalah pelayanan profesional.
E. Karakteristik MPKP
1. Penetapan jumlah tenaga keperawatan. Penetapan jumlah tenaga keperawatan berdasarkan jumlah klien sesuai dengan derajat ketergantungan klien.
2. Penetapan jenis tenaga keperawatan. Pada suatu ruang rawat MPKP, terdapat beberapa jenis tenaga yang memberikan asuhan keperawatan yaitu Clinical Care Manager (CCM), Perawat Primer (PP), dan Perawat Asosiet (PA). Selain jenis tenaga tersebut terdapat juga seorang kepala ruang rawat yang bertanggung jawab terhadap manajemen pelayanan keperawatan di ruang rawat tersebut. Peran dan fungsi masing-masing tenaga sesuai dengan kemampuannya dan terdapat tanggungjawab yang jelas dalam sistem pemberian asuhan keperawatan.
3. Penetapan standar rencana asuhan keperawatan (renpra). Standar renpra perlu ditetapkan, karena berdasarkan hasil obsevasi, penulisan renpra sangat menyita waktu karena fenomena keperawatan mencakup 14 kebutuhan dasar manusia (Potter & Perry, 1997).
4. Penggunaan metode modifikasi keperwatan primer. Pada MPKP digunakan metode modifikasi keperawatn primer, sehingga terdapat satu orang perawat profesional yang disebut perawat primer yang bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas asuhan keperawatan yang diberikan. Disamping itu, terdapat Clinical Care Manager (CCM) yang mengarahkan dan membimbing PP dalam memberikan asuhan keperawatan. CCM diharapkan akan menjadi peran ners spesialis pada masa yang akan datang.

F. Langkah-langkah dalam MPKP
1. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan penerapan MPKP ini ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu (Sitorus, 2006).:
a. Pembentukan Tim
Jika MPKP akan diimplementasikan di rumah sakit yang digunakan sebagai tempat proses belajar bagi mahasiswa keperawatan, sebaiknya kelompok kerja ini melibatkan staf dari institusi yang berkaitan. Sehingga kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi antara pelayanan/rumah saklit dan institusi pendidikan. Tim ini bisa terdiri dari seorang koordinator departemen, seorang penyelia, dan kepala ruang rawat serta tenaga dari institusi pendidikan. (Sitorus, 2006).
b. Rancangan Penilaian Mutu
Penilaian mutu asuhan keperawatan meliputi kepuasan klien/keluarga kepatuhan perawat terhadap standar yang diniali dari dokumentasi keperawatan, lama hari rawat dan angka infeksi noksomial. (Sitorus, 2006).
c. Presentasi MPKP
Selanjutnya dilakukan presentasi tentang MPKP dan hasil penilaian mutu asuhan kepada pimpinan rumah sakit, departemen,staf keperawtan, dan staf lain yang terlibat. Pada presentasi ini juga, sudah dapat ditetapkan ruang rawat tempat implementasi MPKP akan dilaksanakan. (Sitorus, 2006).
d. Penempatan Tempat Implementasi MPKP
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penempatan tempat implementasi MPKP, antara lain (Sitorus, 2006) :
1) Mayoritas tenaga perawat merupakan staf baru di ruang tersebut. Hal ini diperlukan sehingga dari awal tenaga perawat tersebut akan mendapat pembinaan tentang kerangka kerja MPKP
2) Bila terdapat ruang rawat, sebaiknya ruang rawat tersebut terdiri dari 1 swasta dan 1 ruang rawat yang nantinya akan dikembangkan sebagai pusat pelatihan bagi perawat dari ruang rawat lain.

e. Penetapan Tenaga Keperawatan
Pada MPKP, jumlah tenaga keperawatan di suatu ruang rawat ditetapkan dari klasifikasi klien berdasarkan derajat ketergantungan. Untuk menetapkan jumlah tenaga keperawtan di suatu ruangrawat didahului dengan menghitung jumlah klien derdasarkan derajat ketergantungan dalam waktu tertentu, minimal selama 7 hari berturut-turut. (Sitorus, 2006).

f. Penetapan Jenis Tenaga
Pada MPKP metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan adalah metode modifikasi keperawatan primer. Dengan demikian, dalam suatu ruang rawat terdapat beberapa jenis tenaga, meliputi (Sitorus, 2006).:
1) Kepala ruang rawat
2) Clinical care manager
3) Perawat primer
4) Perawat asosiet

g. Pengembangan Standar rencana asuhan Keperawatan
Pengembangan standar renpra bertujuan untuk mengurangi waktu perawat menulis, sehingga waktu yang tersedia lebih banyak dilakukan untuk melakukan tindakan sesuai kebutuhan klien. Adanya standar renpra menunjukan asuhan keperawtan yang diberikan berdasarkan konsep dan teori keperwatan yang kukuh, yang merupakan salah satu karakteristik pelayanan professional. Format standar renpra yang digunakan biasanya terdiri dari bagian-bagian tindakan keperawatan: diagnose keperawatan dan data penunjang, tujuan, tindakan keperawatan dan kolom keterangan. (Sitorus, 2006).

h. Penetapan Format Dokumentasi Keperawatan
Selain standar renpra, format dokumentasi keperawatan lain yang diperlukan adalah (Sitorus, 2006) :
1) Format pengkajian awal keperawatan
2) Format implementasi tindakan keperawatan
3) Format kardex
4) Format catatan perkembangan
5) Format daftar infuse termasuk instruksi atau pesanan dokter
6) Format laporan pergantian shif
7) Resume perawatan

i. Identifikasi Fasilitas
Fasilitas minimal yang dibutuhkan pada suatu ruang MPKP sama dengan fasilitas yang dibutuhkan pada suatu ruang rawat. Adapun fasilitas tambahan yang di perlukan adalah (Sitorus, 2006) :
1) Badge atau kartu nama tim
Badge atau kartu nama tim merupakan kartu identitas tim yang berisi nama PP dan PA dalam tim tersebut. Kartu ini digunakan pertama kali sat melakukan kontrak dengan klien/keluarga.
2) Papan MPKP
Papan MPKP berisi darfat nama-nama klien, PP, PA, dan timnya serta dokter yang merawat klien.

2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan MPKP dilakukan langkah-langkah berikut ini (Sitorus, 2006) :
a. Pelatihan tentang MPKP
Pelatihan MPKP diberikan kepada semua perawat yang terlibat di ruang yang sudah ditentukan.

b. Memberi bimbingan kepada perawat primer (PP) dalam melakukan konferensi.
Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari. Konferensi dilakukan setelah melaukan operan dinas, sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas PP. Konferensi sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar. (Sitorus, 2006).

c. Memberi bimbingan kepada perawat primer (PP) dalam melakukan ronde dengan porawat asosiet (PA).
Ronde keperawatan bersama dengan PA sebaiknya juga dilakukan setiap hari. Ronde ini penting selain untuk supervisi kegiatan PA, juga sarana bagi PP untuk memperoleh tambahan data tentang kondisi klien. (Sitorus, 2006).

d. Memberi bimbingan kepada PP dalam memanfaatkan standar renpra.
Standar renpra merupakan acuan bagi tim dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Semua masalah dan tindakan yang direncenakan mengacu pada standar tersebut. (Sitorus, 2006).

e. Memberi bimbingan kepada PP dalam membuat kontrak/orientasi dengan klien/keluarga.
Kontrak antara perawat dan klien/keuarga merupakan kesepakatan antara perawat dan klien/keluarganya dalam pemberian asuhan keperawatan. Kontrak ini diperlukan agar hubungan saling percaya antara perawat dan klien dapat terbina. Kontrak diawali dengan pemberian orientasibagi klien dan keluarganya. (Sitorus, 2006).

f. Memberi bimbingan kepada PP dalam melakukan presentasi kasus dalam tim.
PP secara teratur diharapkan dapat mempresentasikan kasus-kasus klien yang dirawatnya. Melalui kasus ini PP dan PA dapat lebih mempelajari kasus yang ditanganinya secara mendalam. (Sitorus, 2006).
g. Memberi bimbingan kepada Critical Care Manager (CCM) dalam membimbing PP dan PA.

Bimbingan CCM terhadap PP dan PA dalam melakukan implementasi MPKP dilakukan melalui supervisi secara berkala. Agar terdapat kesinambungan bimbingan, diperlukan buku komunikasi CCM. Buku ini menjadi sangat diperlukan karena CCM terdiri dari beberapa orang yaitu anggota tim/panitia yang diatur gilirannya untuk memberikan bimbingan kepada PP dan PA. Bila sudah ada CCM tertentu untuk setiap ruangan, buku komunikasi CCM tidak diperlukan lagi. (Sitorus, 2006).
h. Memberi bimbingan kepada tim tentang dokumentasi keperawatan.
Dokumentasi keperawatan menjadi bukti tanggung jawab perawat kepada klien. Oleh karena itu, pengisisan dokumentasi secara tepat menjadi penting.

3. Tahap Evaluasi
Evaluasi proses dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen evsluasi MPKP oleh CCM. Evaluasi prses dilakukan oleh CCM dua kali dalam seminggu. Evaluasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara dini maslah-masalah yang ditemukan dan dapat segera diberi umpan balik atau bimbingan. Evluasi hasil (outcome) dapat dilakukan dengan (Sitorus, 2006) :
a. Memberika instrumen evaluasi kepuasan klien/keluarga untuk setiap klien pulang.
b. Mengevaluasi kepatuhan perawat terhadap standar yang dinilai berdasarkan dokumentasi.
c. Penilaian infeksi nosokomial (biasanya ditetapkan per ruang rawat).
d. Penilaian rata-rata lama hari rawat.

4. Tahap Lanjut
MPKP merupakan penataan struktur dan proses (sistem) pemberian asuhan keperawatan. Agar implementasi MPKP memberikan dampak yang lebih optimal, perlu disertai dengan implementasi substansi keilmuan keperawatan. Pada ruang MPKP diuji coba ilmu dan teknologi keperawatan karena sudah ada sistem yang tepat untuk menerapkannya. (Sitorus, 2006).
a. MPKP pemula ditingkatkan menjadi MPKP tingkat I. Pada tingkat ini, PP pemula diberi kesempatan meningkatkan pendidikan sehingga mempunyai kemampuan sebagai SKp/Ners. Setelah mendapatkan pendidikan tambahan tersebut berperan sebagai PP (bukan PP pemula). (Sitorus, 2006).
b. MPKP tingkat I ditingkatkan menjadi MPKP tingkat II. Pada MPKP tingkat I, PP adalah SKp/Ners. Agar PP dapat memberikan asuhan keperawatan berdasarkan ilmu dan teknologi mutakhir, diperlukan kemampuan seorang Ners sepeialis yang akan berperan sebagai CCM. Oleh karena itu, kemampuan perawat SKp/ Ners ditingkatkan menjadi ners spesialis. (Sitorus, 2006).
c. MPKP tingkat II ditingkatkan menjadi MPKP tingkat III. Pada tingkat ini perawat denga kemampuan sebagai ners spesialis ditingkatkan menjadi doktor keperawatan. Perawat diharapkan lebih banyak melakukan penelitian keperawatan eksperimen yang dapat meningkatkan asuhan keperwatan sekaligus mengembangkan ilmu keperawatan. (Sitorus, 2006).

G. Tingkatan MPKP Menurut Sudarsono (2000), berdasarkan pengalaman mengembangkan model PKP dan masukan dari berbagai pihak perlu dipikirkan untuk mengembangkan suatu model PKP yang disebut Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula (PKPP). Ada beberapa jenis model PKP yaitu: a. Model Praktek Keperawatan Profesional III Melalui pengembangan model PKP III dapat berikan asuhan keperawatan profesional tingkat III. Pada ketenagaan terdapat tenaga perawat dengan kemampuan doktor dalam keperawatan klinik yang berfungsi untuk melakukan riset dan membimbing para perawat melakukan riset sera memanfaatkan hasil-hasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan. b. Model Praktek Keperawatan Profesional II Pada model ini akan mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat II. Pada ketenagaan terdapat tenaga perawat dengan kemampuan spesialis keperawatan yang spesifik untuk cabang ilmu tertentu. Perawat spesialis berfungsi untuk memberikan konsultasi tentang asuhan keperawatan kepada perawat primer pada area spesialisnya. Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil-hasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan. Jumlah perawat spesialis direncanakan satu orang untuk 10 perawat primer pada area spesialisnya. Disamping itu melakukan riset dan memanfaatkan hasil-hasil riset dalam memberikan asuhan keperawatan. Jumlah perawat spesialis direncanakan satu orang untuk 10 perawat primer (1:10).

c. Model Praktek Keperawatan Profesional I. Pada model ini perawat mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat I dan untuk itu diperlukan penataan 3 komponen utama yaitu: ketenagaan keperawatan, metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan pada model ini adalah kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim disebut tim primer. d. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula (MPKPP) merupakan tahap awal untuk menuju model PKP. Model ini mampu memberikan asuhan keperawatan profesional tingkat pemula. Pada model ini terdapat 3 komponen utama yaitu: ketenagaan keperawatan, metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi asuhan keperawatan.

H. Pilar-pilar MPKP
a) Pilar 1: Pendekatan manajemen keperawatan
Terdiri dari :
(1) Perencanaan dengan kegiatan perencanaan yang dipakai di ruang MPKP meliputi ( perumusan visi, misi, filosofi, kebijakan dan rencana jangka pendek, harian, bulanan dan tahunan).
(2) Pengorganisasian dengan menyusun struktur organisasi, jadwal dinas, dan daftar alokasi pasien.
(3) Pengarahan
Terdapat kegiatan delegasi, supervisi, menciptakan iklim motivasi, manajemen waktu, komunikasi efektif yang mencakup pre dan post conference, dan manajemen konflik.

b) Pilar 2: Sistem penghargaan
Manajemen sumber daya manusia diruang MPKP berfokus pada proses rekruitmen, seleksi kerja orientasi, penilaian kerja, staf perawat. Proses ini selalu dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawatan baru.

c) Pilar 3: Hubungan profesional
Hubungan profesional dalam pemberian pelayanan keperawatan (tim kesehatan) dalam penerimaan pelayanan keperawatan (klien dan keluarga). Pada pelaksanaannya hubungan profesional secara internal artinya

hubungan yang terjadi antara pembentuk pelayanan kesehatan misalnya perawat dengan perawat, perawat dengan tim kesehatan lain, sedangkan hubungan profesional secara eksternal adalah hubungan antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan.

d) Pilar 4: Manajemen asuhan keperawatan
Manajemen asuhan keperawatan yang diterapkan di MPKP adalah asuhan keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan.

SP2KP (Sistem Pemberian Pelayanan Keperawtan Professional)

A. Pengertian SP2KP
SP2KP adalah Sistem Pemberian Pelayanan Keperawtan Professional. SP2KP adalah system pemberian pelayanan keperawatan professional yang merupakan pengembangan dari MPKP (Model praktek Keperawatan Profesional) dimana dalam SP2KP ini terjadi kerjasama professional antara perawat primer (PP) dan perawat asosiet (PA) serta tenaga kesehatan lainnya.

B. Kelebihan SP2KP
Kelebihan dari SP2KP adalah pelayanan keperawatan kepada pasien lebih terstruktur dan kinerja perawat lebih professional.

C. Mana yang Lebih Baik SP2KP atau MPKP
Lebih terstruktur, terorganisir SP2KP karena SP2KP merupakan bantuk pengembangan dari MPKP yang lebih profesional dan lebih baik dalam memberikan tingkat pelayanan asuhan keperawatan terhadap klien
D. Perbedaan MPKP dan SP2KP
Dalam model MPKP tidak terdapat PP (perawat primer), jika di SP2KP mengenal mengenai PP dan PA (perawat associate)

E. Hambatan dalam penerapan SP2KP dan MPKP
Adapun hambatan dalam penerapan MPKP dan SP2KP adalah kurangnya sumber daya manusia yang kompeten
F. MPKP (model keperawatan tim) diubah menjadi SP2KP (model keperawatan profesional)
a. Pada metode keperawatan primer, pemberian asuhan keperawatan dilakukan psecara berkesinambungan sehingga memungkinkan adanya tanggung jawab dan tanggung gugat yang merupakan esensi dari suatu layanan profesional
b. Terdapat satu orang perawat professional yang disebut PP, yang bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas asuhan keperawatan yang diberikan. Pada MPKP , perawat primer adalah perawat lulusan sarjana keperawatan/Ners.
a. Pada metode keperawataan primer, hubungan professional dapat ditingkatkan terutama dengan profesi lain.

G. Kinerja Perawat Setelah Penerapan SP2KP
Lebih bertanggung jawab kepada klien, lebih profesional dari pada sebelumnya.

H. Peran PP dalam SP2KP
Dalam pengembangan konsep SP2KP, perawat PP berugas dalam menjalankan komunikasi dengan tenaga kesehatan lain seperti dokterm, ahli gizi, farkamasi, dll. Dalam hal ini, perawat PP bertugas untuk memberikan hasil pemeriksaannya berdasarkan hasil pengkajiannya dan yang berhubungan dengan perawatannya pasien, sehingga dapat membantu dalam memutuskan tindakan medis nantinya.
I. Perkembangan SP2KP di rumah sakt di sekitar Semarang
Menurut sumber yang kami dapatkan bahwa Rumah Sakit di sekitar Semarang yang sudah berhasil menerapkan MPKP dan SP2KP adalah Rumah Sakit Kariadi. Karena RS Kariadi merupakan Rumah Sakit Pusat di Semarang dan mempunyai banyak sumber daya manusia yang unggul.

J. Perbedaan dampak bagi pasien setelah penerapan SP2KP
Setelah diterapkannya SP2KP di rumah sakit memberikan dampak tersendiri bagi pasien. Pasien di rumah sakit menjadi merasa lebih diperhatikan karena rumah sakit tekah menggunakan metode yang lebih professional yakni metode moduler.
K. Renpra
Rencana asuhan keperawatan ( renpra ) selain berfungsi sebagai :
1. Pedoman bagi PP-PA
2. Landasan profesional bahwa asuhan keperawatan diberikan berdasarkan ilmu pengetahuan
Kerjasama profesional PP-PA, renpra selain berfungsi sebagai penunjuk perencanaan asuhan yang diberikan juga berfungsi sebagai media komunikasi PP pada PA. Berdasarkan renpra ini, PP mendelegasikan PA untuk melakukan sebagian tindakan keperawatan yang telah direncanakan oleh PP. Oleh sebab itu, sangat sulit untuk tim PP-PA dapat bekerjasama secara efektif jika PP tidak membuat perencanaan asuhan keperawatan ( renpra ). Hal ini menunjukan bahwa renpra sesungguhnya dibuat bukan sekedar memenuhi ketentuan ( biasanya ketentuan dalam menentukan akreditasi rumah sakit ).

L. Fungsi Perawat Melakukan Konferen
Konferensi adalah pertemuan yang direncanakan antara PP dan PA untuk membahas kondisi pasien dan rencana asuhan yang dilakukan setiap hari. Konferensi biasanya merupakan kelanjutan dari serah terima shift. Hal-hal yang ingin dibicarakan lebih rinci dan sensitif dibicarakan didekat pasien dapat dibahas lebih jauh didalam konferensi. Konferensi akan efektif jika PP telah membuat renpra dan membuat rencana apa yang akan dibicarakan dalam konferensi. Konferensi ini lebih bersifat 2 arah dalam diskusi antara PP–PA tentang rencana asuhan keperawatan dari dan klarifikasi pada PA dan hal lain yang terkait. Ketika PP melakukan konferensi, biasanya melalui tahap pre konferen, konferen, dan post konferen. Pada saat konferen PP akan menjelaskan mengenai renpra yang telah dibuat, dan untuk menyatukan pendapat antara perawat PP dan PA

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
SP2KP adalah Sistem Pemberian Pelayanan Keperawtan Professional. SP2KP adalah system pemberian pelayanan keperawatan professional yang merupakan pengembangan dari MPKP (Model praktek Keperawatan Profesional) dimana dalam SP2KP ini terjadi kerjasama professional antara perawat primer (PP) dan perawat asosiet (PA) serta tenaga kesehatan lainnya.
B. Saran
Sebagai seorang perawat nantinya, kita diharapkan mampu memahami konsep MPKP dan SP2KP sehingga nantinya kita dapat menerapkan konsep tersebut ketika kita sudah bekerja.

DAFTAR PUSTAKA
Sitorus, Ratna.2006.Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit:Penataan Struktur dan Proses (Sistem) Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat.Jakarta:EGC.
Sitorus, Ratna.2006.Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit:Penataan Struktur dan Proses (Sistem) Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat:Implementasi.Jakarta:EGC.
Swanburg, Russel C.2000. Pengantar Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Perawatan Klinis.Jakarta:EGC.


by: Ning Suwarsih, Izumi Ony kusuma, Rinda ayu Dwi apriska, Lutfi Nur Azhari, Atik Dina Nasekhah, Marsha Yoke Nancy

Senin, 02 Desember 2013

SISTEM GASTROINTESTINAL (SISTEM PENCERNAAN)






PAPER SISTEM GASTROINTESTINAL
Untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar Keperawatan Dewasa
Dosen Pengampu : Ns.Niken Safitri Dyan K, S.Kep, M.Si.Med



Disusun oleh  :
Nama         : Ning Suwarsih         
NIM          : 22020112130108
Kelas         : A.12.2




JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

SISTEM GASTROINTESTINAL
A.    Pengertian
Saluran gastrointestinal (GI) merupakan serangkaian organ muskular berongga yang dilapisi oleh membran mukosa (selaput lendir).4 Saluran gastrointestinal adalah jalur panjang yang total panjangnya mencapai 23 sampai 26 kaki, yang berjalan dari mulut melalui esofagus, lambung dan usus sampai anus.1 Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan meliputi tuba muskular panjang yang merentang dri mulut sampai anus, dan organ-organ lain seperti gigi, lidah kelenjar saliva, hati, kandung empedu, dan pankreas.
B.     Fungsi sistem gastrointestinal
Fungsi utama dari sistem pencernaan adalah mnyediakan air, garam, mineral, dan elektrolit bagi tubuh dari nutrien yang telah dicernna sehingga nustrisi tersebut siap untuk diabsorpsi. Memecahkan partikel makanan ke dalam bentuk molekul yang siap dicerna, mengabsorpsi hasil pencernaan ke dalam darah, dan mengeliminasi makanan yang tidak dicerna.1  Sistem pencernaan bekerja dari proses mengunyah dan menelan serta proses lainnya yang berperan dalam mengubah makanan ke dalam bentuk yang dipergunakan oleh sel dan membuang sampah metabolisme.
Pencernaan ini terjadi secara mekanik dan kimia. Pencernaan ini melalui beberapa proses, adapun proses dalam pencernaan  sebagai berikut:
1.      Ingesti
Ingesti merupakan proses dimana makanan masuk ke dalam mulut. 2
2.      Pemotongan dan penggilingan
Proses pemotongan dan penggilingan ini terjadi setelah makannan masuk kedalam mulut, sehingga makanan tersebut di potong dan digiling oleh gigi secara mekanik. Kemudian setelah makan terpotong-potong makanan tersebut bercampur dengan enzim yang dihasilkan oleh kelenjar saliva.2
3.      Peristaltis
Peristaltis merupakan gelombang kontraksi otot polos involunter yang menggerakan makanan sehingga makanan tersebut tertelan melalui saluran pencernaan. Gerakan ini berlangsung setelah makanan masuk ke dalam faring. Trakea tertutup sedangkan esofgus terbuka, kemudian gelombang peristaltic yang cepat dari faring memaksa bolus makanan masuk ke dalam esofagus.2
4.      Digesti
Digesti adalah proses hidrolisis kimia atau penguraian dari molekul yang lebih besar menjadi molekul-molekul kecil. Sehingga molekul-molekul ini bisa diabsorpsi oleh usus halus.2
5.      Absorpsi
Absorpsi merupakan proses penyerapan sari-sari makanan oleh usus halus. Sehingga sari-sari makanan tersebut masuk ke dalam aliran darah dan di edarkan ke seluruh bagian tubuh.2
6.      Egesti
Egesti atau yang biasa disebut dengan defekasi adalah proses eliminasi zat-zat sisa yang tidak dicerna atau sisa dari proses pencernaan, dalam bentuk feses dari saluran pencernaan.2

C.     Bagian-bagian sistem gastrointestinal.
Sistem gastrointestinal terdiri atas beberapa organ atau bagian yaitu, sebagai berikut:
1.      Mulut
Mulut adalah rongga lonjong pada permulaan saluran percernaan. Terdiri atas dua bagian, bagian luar yang sempit, atau vestibula, yaitu ruang di antara gusi serta gigi dengan bibir dan pipi, dan bagian dalam, yaitu rongga mulut yang dibatasi di sisi-sisinya oleh tulang maxilaris dan semua gigi, dan di sebelah belakang bersambung dengan awal faring.3 Mulut atau rongga oral berisi organ aksesori yang berfungsi pada proses awal pencernaan.

a.       Bibir
Bibir tersususn atas otot rangka (orbikularis mulut) dam jaringan ikat. Bibir mrupakan organ yang berfungsi untuk menerima makanan. Adapun bagian-bagian dari bibir, yaitu:
1.      Permukaan luar bibir
Permukaan luar bibir ini dilapisi oleh kulit yang mengandung folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea.
2.      Area transisional
Area transisional memiliki epidermis transparan. Bagian ini terlihat merah karena dilewati oleh banyak kapiler yang dapat terlihat.
3.      Permukaan dalam
Permukaan dalam bibir adalah membrane mukosa. Terdapat frenulum labia yang melekatkan membrane mukosa pada gusi.2
b.      Lidah
Lidah ini dilekatkan di dasar mulut oleh frenulun lingua. Lidah berfungsi untuk menggerakan makanan saat dikunyah atau di telan dan sebagai pengecap rasa.2
c.       Kelenjar saliva
Kelenjar saliva ini terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mukus. Terdapat tiga kelenjar saliva, yaitu:
1.      Kelenjar paratiroid
Kelenjar paratiroid adalah kelenjar saliva terbesar. Kelenjar paratiroid terletak agak ke bawah dan di depan telinga serta membuka melalui duktus paroid menuju papilla yang terletak berhadapan dengan gigi molar kedua pada kedua sisi.
2.      Kelenjar submandibular
Kelenjar submandibular kurang lebih besarnya sebesar biji kenari terletak di permukaan dalam pada mandibula. Membuka melalui duktus Wharton menuju kedasar mulut pada kedua sisi frenulum lingua.
3.      Kelenjar sublingual
Kelenjar sublingual terletak di dasar mulut dan membuka melalui duktus sublingual kecil menuju dasar mulut.2
Dari sekresi serosa, terdapat 98% air dan mengandung enzim amilase yang memecah karbohidrat menjadi maltosa di dalam mulut. Sedangkan sekresi mukus yang lebih kental mengandung glikoprotein (musin), ion, dan air. Pada manusia normal, saliva yang di sekresi per menit adalah sebanyak 1 ml. Saliva yang di sekresi dapat mencapai 1 L samapai 1,5 L dalam 24 jam dengan pH 7,0.2 Fungsi saliva di antaranya adalah:
1.Melarutkan makanan secara kimia.
2.Melembabkan dan melumasi makanan sehingga dapat ditelan.
3.Amilase pada saliva mengurai zat tepung menjadi maltosa.
d.      Gigi
Gigi merupakan bagian dari rongga oral yang bekerja pada proses awal pencernaan secara mekanik. Setiap barisan gigi pada rahang membentuk lengkung gigi. Lengkung bagian atas lebih besar dari daripada bagian bawah sehingga gigi atas akan menutup gigi bagian bawah. Manusia memiliki dua susunan gigi yaitu, gigi primer (gigi susu) dan gigi sekunder (permanen). Gigi primer berjmlah 20 gigi dalam setengah lengkung gigi terdiri dari dua gigi seri, satu taring, dan dua geraham. Gigi sekunder berjumlah 32 buah. Setengah dari lengkung gigi terdiri dari dua gigi seri, satu taring, dua premolar, dan tiga geraham.2
Gigi tersusun atas mahkota gigi yaitu bagian gigi yang terlihat. Mahkota dan akar bertemu dengan leher yang diselubungi gingival (gusi). Kemudian ada membrane periodontal yang menahan gigi di rahang. Mahkota yang melebar kedalam saluran akar berisi pulpa gigi yang mengandung pembuluh darah. Selain itu terdapat dentin yang menyelubungi rongga pulpa. Namun, dentin ini tertutupi pleh email gigi. Email gigi ini tersusun dari 97% zat anorganik ( terutama kalsium fosfat) yang berfungsi untuk melindungi gigi.2
Pada gigi seri, terdapat di bagian depan rongga mulut berfungsi untuk memotong makanan yang sedikit lunak dan potongan yang dihasilkan oleh gigi seri masih dalam bentuk potongan yang kasar, nantinya potongan tersebut akan dihancurkan sehingga menjadi lebih lunak oleh gigi geraham dengan dibantu oleh saliva sehingga nantinya dapat memudahkan makanan untuk menuju saluran pencernaan seterusnya. Gigi taring lebih tajam sehingga difungsikan sebagai pemotong daging atau makanan lain yang tidak mampu dipotong oleh gigi seri.3
2.      Faring
Faring merupakan jalan untuk masuknya material makanan, cairan dan udara menuju esofagus. Faring berbentuk seperti corong dengan bagian atasnya melebar dan bagian bawahnya yang sempit. Dari faring inilah proses menelan dimulai. Dimulai dari keadaan dimana lidah menekan palatum keras saat rahang menutup dan mengarahkan bolus ke arah orofaring. Bolus makanan dalam faring merangasang reseptor orofaring yang mengirim impuls ke pusat menelan dalam medulla dan batang obat bagian bawah. Sehingga menimbulkan refleks  penutupan semua lubang kecuali esopfagus dan makanan bisa masuk ke dalam esofagus.2
3.      Esofagus
Esofagus adalah tuba muskular yang panjangnya sekitar 9 sampai 10 inchi (25 cm) dan berdiameter 1 inchi (2,54 cm). Esofagus berawal pada area laringofaring, melewati diafragma dan membuka ke arah lambung. Esofagus menggerakan makanan dari faring ke lambung  melalui gerak peristaltis. Sfingter kemudian berkontriksi untuk mencegah regurgitasi isi lambung ke esofagus.2
Dinding esofagus terdiri dari 4 lapis yaitu: mukosa, submukosa, muskularis propria dan adventisia. Esofagus tidak terdapat lapisan serosa sehingga merupakan saluran cerna yang unik. Mukosa normal terdiri dari epitel berlapis pipih, antara muskularis propria dan mukosa terdapat aliran limfatik yang berasal dari muskularis propria. Muskularis propria terdiri dari otot bergaris dan otot polos yaitu pada bagian proksimal otot bergaris, bagian tengah otot bergaris dan polos dan pada bagian distal otot polos. Otot lapisan dalam tersusun sirkuler dan lapisan luar longitudinal.5
4.      Lambung
Lambung terletak di bagian kiri atas abdomen tepat di bawah diafragma. Dalam keadaan kosong, lambung berbentuk tabung J dan bila penuh akan tampak seperti buah alpukat. Lambung terbagi atas fundus, korpus dan pilorus. Kapasitas normal lambung adalah 1-2 liter. Fundus adalah bagian atas dari lambung yang menonjol ke sisi kiri. Korpus merupakan bagian yang terletak di bawah fundus yang membentuk du pertiga dari bagian lambung. Sedangkan pylorus adalah bagian bawah lambung yang berhubungan dengan usus halus.2
Sfingter pada kedua ujung lambung mengatur pengeluarn dan pemasukan lambung. Sfingter kardia, mengalirkan makanan masuk ke lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus kembali. Sedangkan sfingter pilorus akan berelaksasi saat makanan masuk ke dalam duodenum dan ketika berkontraksi, sfingter ini akan mencegah aliran balik isi usus halus ke lambung.3
Fungsi lambung dalam proses pencernaan antara lain:
1.      Menyimpan makanan dalam jumlah besar sampai makanan tersebut dapat di tampung pada bagian bawah pencernaan.
2.      Mencampur makanan tersebut dengan secret lambung sampai ia membentuk suatu campuran setengah padat yang dinamakan kimus.
3.      Mengeluarkan makanan perlahan-lahan dari lambung masuk ke usus halusdengan kecepatan yang sesuai untuk pencernaan dan absorpsi oleh usus halus. Karbohidrat dapat masuk ke usus halus dengan cepat, protein lebih lambat, dan lemak tetap dalam lambung selama 3 sampai 6 jam.3
Selain itu, lambung juga menskresikan pepsinogen, renin, mucus , dan gastrin. Pepsinogen yang di hasilkan oleh sel chief  diubah menjadi pepsin oleh asam klorida ( yang disekresikan oleh sel parietal). Pepsin ini menguraikan protein menjadi polipeptida. Tetapi, pepsinogen hanya bekerja dengan pH di bawah 5. Enzim lipase mengubah lemak susu menjadi asam lemak dan gliserol. Rennin berfungsi untuk mengkoagulasikan protein susu. Gastrin berfungsi untuk merangsang sekresi lambung, meningkatkan motilitas usus dan lambung, mengkontriksi sfingter esophagus bawah dan merelaksasi sfingter pilorus.2
5.      Usus halus
Usus halus merupakan tuba terlilit yang merentang dari sfingter pylorus sampai ke katup ileosekal, tempatnya menyatu dengan usus besar. Diameter usus halus kurang lebih 2,5 cm dan panjangnya 3 sampai 5 meter saat bekerja. Panjang 7 meter pada mayat dicapai saat lapisan muskularis eksterna berelaksasi.2
Duodenum mempunyai panjang sekitar 25 cm sampai 30 cm dan berhubungan dengan lambung, jejunum mempunyai panjang sekitar 2,5 m, dimana proses digesti kimia dan absorpsi nutrisi terjadi dalam jejunum sedangkan ileum mempunyai panjang sekitar 3,5 meter. Disepanjang usus halus terdapat kelenjar usus tubular. Di duodenum terdapat kelenjar duodenum asinotubular kecil yang membentuk kumparan. 3
Disepanjang   membran mukosa usus halus yang diliputi oleh vili. Terdapat 20 sampai 40 vili persegi glukosa. Vili adalah jutaan tonjolan  menyerupai jari ( tingginya 0,2 mm sampai 1,0 mm) yang memanjang ke lumen dari permukaan mukosa. Vili merpakan struktur yang memperluas permukaan reabsorpsi usus halus sampai krang lebih 600 kali.
Selain itu, usus halus juga mensekresi enzim maltase yang berfungsi untuk menguraikan maltosa menjadi glukosa. Enzim sukrase yang mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Enzim laktase yang mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Enzim peptidase yang menguraikan peptide menjadi asam amino. Dan enzim lipase yang menguraikan monogliserida menjadi asam lemak dan gliserol. Usus halus berfungsi sebagai akhir dari proses pencernaan. Di usus halus inilah sari-sari makanan diabsorpsi dan di edarkan ke seluruh tubuh. Glukosa, asam amino, asam lemak, gliserol, air, vitamin, dan elektrolit diabsorpsi oleh duodenum dan jejunum melalui transport aktif.
Table jenis enzim dan fungsinya.2
Enzim
Sumber skresi
Aksi
Karbohidrat
Amilase saliva (ptialin)
Kelenjar saliva
Zat tepung menjadi  maltosa
Amilase pankreas
Pankreas
Zat tepung      menjadi   disakarida dan maltosa      
Maltase
Usus halus
Maltose  menjadi    glukosa
Sukrase
Usus halus
Sukrosa  menjadi  glukosa dan fruktosa
Laktase
Usus halus
Laktosa  menjadi   glukosa dan galaktosa
Lemak
Lipase pankreas
Pankreas
Trigiserida menjadi monogliserida dan       asam lemak
Lipase usus halus (steapsin)
Usus halus
Monogliserida menjadi asam lemak dan gliserol
Protein
Pepsin
Lambung ( pepsinogen diaktivasi oleh HCL lambung)
Protein menjadi  polipeptida
Tripsin
Pankreas (tripsinogen diaktivasi oleh enterokinase)
Protein dan peptida menjadi peptida yang lebih kecil
Kimotripsin
Pankreas (kimotripsinogen diaktivasi oleh tripsin)
Protein dan peptida menjadi peptida yang lebih kecil
Peptidase
Usus halus
Dipeptida  menjadi  asam amino

6.      Pankreas
Pankreas merupakan kelenjar majemuk seperti glandula saliva. Pancreas terletak sejajar lambung dan mengskresikan getahnya ke dalam duodenum beberapa centimeter dari pilorus. Sel-sel endokrin pancreas mensekresi hormone insulin dan glukagon. Sel endokrin (asinar) mensekresikan enzim-enzim pencernaan.2 Pankreas memiliki beberapa fungsi dalam proses pencernaan, yaitu:
1.      Mensekresikan enzim tripsinogen yang diaktivasi menjadi tripsin oleh enterokinase. Tripsin ini akan menguraikan protein dan polipeptida besar menjadi polipeptida dan peptide kecil.
2.      Enzim kimotripsin yang diaktivasi oleh kimotripsinogen yang berfungsi untuk menguraikan protein dan polipeptida besar menjadi polipeptida dan peptide kecil.
3.      Mensekresikan lipase lemak yang berfungsi untuk mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
4.      Enzim amilase pankreas berfungsi untuk  menghidrolisis zat tepung yang tidak dicerna oleh amilase saliva.3
7.      Hati
Hati adalah organ visceral terbesar yang terletak di bawah kerangka iga. Beratnya adalah 1,500 gram dan pada saat kondisi hidup warnanya merah tua karena kaya akan persediaan darah. Hati menerima darah yang teroksigenasi dari arteri hepatika dan darah yang tidak teroksigenasi serta mengandung nutrien dari vena hepatika. Hati terbagi menjadi dua lobus yaitu lobus kanan dan lobus kiri. Lobus kanan memiliki ukuran yang lebih besar dari pada lobus kiri.2
Lobus kanan dan lobus kiri dipisahkan oleh ligament falsiform. Diantara kedua lobus terdapat portal hepatis yang merupakan jalur masuk dan keluar pembuluh darah, saraf, dan duktus. Saluran portal, berisi sebuah cabang vena portal, arteri hepatika, dan duktus empedu yang membentuk lobulus portal.
Fungsi hati dintaranya, yaitu:
1.      Memproduksi empedu
2.      Hati menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen dan mengubahnya kembali menjadi glukosa jika dibutuhkan oleh tubuh.
3.      Mengurai protein dari sel-sel tubuh dan sel darah merah yang rusak.
4.      Menyimpan mineral, seperti zat besi dan vitamin larut lemak.
5.      Menyimpan darah untuk sekitar 30% curah jantung dan bersama dengan limfa mengatur volume darah yang diperlukan tubuh.2
Empedu yang dihasilkan oleh sel hati akan memasuki kanalikuli empedu dan akan disimpan di kandung empedu. Empedu adalah larutan berwarna kuning kehijauan yang terdiri dari 97% air, dan pigmen dan garam empedu. Pigmen empedu terdiri dari biliverdin (hijau) dan bilirubin (kuning). Namun pigemen utamanya adalah bilirubin yang memberikan warna kuning pada feses. Pigmem-pigmen ini merupakan hasil dari penguraian hemoglobin yang dilepas dari sel darah merah yang terdisintegrasi. Garam empedu berasal dari asam empedu yang berikatan dengan kolesterol dan asam amino. Garam tersebut direabsorpsi dari ileum dan dibawa ke hati untuk di daur ulang. Garam empedu ini akan membantu mengemulsi lemak, absorpsi lemak, dan penge luaran kolesterol dari tubuh.2
Kandung empedu adalah kantong muscular hijau menyerupai pir dengan panjang 10 cm. organ ini terletak di lekukan dibawah lobus kanan hati. Kapasitas total kandung empedu kurang lebih 30 ml sampai 60 ml. kandung empedu ini berfungsi untuk menyimpan cairan empedu sampai cairan empedu tersebut dibutuhkan oleh duodenum. Kandung empedu ini mampu menyimpan hasil 12 jam sekresi empedu dari hari.2
8.      Usus besar
Secara struktur, usus besar  hampir sama dengan usus halus. Serabut longitudinal pada dinding berotot tersusun dalam tiga jalur ( taeniae coli) yangmenarik kolon menjadi kantong kantong yang disebut haustra yang memberi rupa berkerut-kerut dan berlubang-lubang. Dinding mukosa lebih halus dari yang ada pada usus halus, tidak memiliki vili, tidak memiliki lipatan-lipatan sirkular, diameternya lebih lebar, panjangnya lebih pendek dari usus halus, dan daya regangnya lebih besar dari usus halus. Di antara usus halus dan usus besar terdapat katup ileosekal yang secara otomatis akan membuka dan menutup dan berfungsi untuk mencegah masuknya cairan dari usus besar kembali ke usus halus.1
Usus besar terdiri dari beberapa bagian yaitu:
1.      Sekum
Sekum adalah kantung tertutup yang menggantung di bawah area katup ileosekal. Pada ujung sekum terdapat suatu tabung buntu yang sempit berisi jaringan limfoid yang disebut apendiks vermiform.
2.      Kolon
Kolon adalah bagian usus besar dari sekum sampai rektum.  Ada tiga jenis kolon yaitu, kolon asenden, transversa, dan desenden. Kolon asenden adalah kolon yang merentang dari sekum sampai ke tepi bawah hati disebelah kanan dan membalik secra horizontal pada fleksura hepatika. kolon transversa merentang menyilang abdomen di bawah hati dan lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar sampai ke bawah pada fleksura splenik. Dan kolon desenden merentang ke bawah pada sisi kiri abdomen dan menjadi kolon sigmoid berbentuk S yang bermuara di rektum.2
3.      Rektum
Rektum adalah bagian saluran pencernaan selanjutnya dengan panjang 12 cm sampai 13 cm. rectum berakhir pada saluran anal dan membuka ke eksterior di anus. Struktur rektum serupa dengan kolon, tetapi dinding yang berotot lebih tebal dan membran mukosanya memuat lipatan-lipatan membujur yang disebut kolumna Morgagni. Semua menyambung ke dalam saluran anus. Di dalam saluran anus ini serabut otot sirkuler menebal untuk membentuk otot sfinkter anus interna. Sfinkter eksterna menjaga saluran anus dan orifisium supaya tertutup.1
 Usus besar tidak ikut serta dalam pencernaan atau absorpsi makanan. Bila isi usus halus mencapai sekum maka zat makanan telah diabsorpsi dan isinya cair. Selama perjalanan di dalam kolon isinya menjadi semakin padat karena air diabsorpsi dan ketika rectum dicapai maka feses bersifat padat-lunak. Fungsi usus besar yaitu, sebagai berikut:
1.      Usus besar mengabsorpsi 80% sampai 90% air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah kimus dari cairan menjadi massa yang semi padat.
2.      Di dalam kolon terdapat populasi bakteri yang membantu proses pembusukan sisa pencernaan. Bakteri ini juga mencerna sejumlah kecil selulosa dan memproduksi sedikit kalori nutrien bagi tubuh.
3.      Usus besar memproduksi mucus.
4.      Usus besar mensekresikan sisa pencernaan dalam bentuk feses. Warna feses berasal dari pigmen empedu dan baunya bersal dri bakteri.2




Daftar Pustaka

1.      Arthur C, Guyton. 1990.Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit.Jakarta:EGC
2.      Slone, Ethel.2003.Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula.Jakarta:EGC
3.      Smeltzer, Suzanne C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth.Jakarta:EGC
4.      Patricia A, Potter.2005.Buku ajar Fundamental Keperawatan Volume 2.Jakarta:EGC
5.      Jane Y, Yang Y, Ellen S, Deutsch D, James S, Reilly R. Bronchoesophagology. In: James B, Snow JR, John JB, eds. Otorhinolaryngology head and neck surgery. 16th ed. Ontario: BC Decker Inc; 2003. hal.  1562-73.